Entri Populer

Sabtu, 21 Januari 2012

Syarat-syarat seorang Perowi Hadits

PEMBAHASAN

          Para ulama ahli hadits mengistilahkan bahwa “menerima dan mendengarkan periwayatan suatu hadits dari seseorang guru dengan menggunakan beberapa metode penerimaan suatu hadits” dengan istilah at-tahammul. Sedangkan “menyampaikan atau meriwayatkan hadits kepada orang lain “mereka istilahkan dengan al-ada.’
          Jumhur ahli hadits dan fiqih sepakat bahwa syarat bagi orangg yang dapat dipakai hujjah riwayatnya adalah hendaklah dia adil dan dhobith atas hadits yang diriwayatkannya. Perinciannya rowi tersebut seorang muslim, baligh, taqwa, kuat hafalan bila hadits yang diriwayatkan berdasarkan hafalan, dan tepat tulisannya bila hadits yang diriwayatkan dalam bentuk tulisan.[1]
A.    Syaarat-Syarat Seorang Perowi

          Jumhur ulama hadits dan fiqh sepakat bahwa seorang perawi harus memenuhi dua syarat pokok atau syarat utama, yakni al-‘adalah (keadilan) dan al-dabt (kedabitan).[2]

1.         Al-‘Adalah (Keadilan)
          Al-‘Adalah adalah suatu watak dari sifat yang sangat kuat yang dapat mengarahkan orangnya kepada perbuatan taqwa, menjahui perbuatan munkar, dan segala sesuatu yang dapat merusak muru’ah/harga diri.[3]
     Dalam definisi lain, Al-‘Adalah adalah potensi baik yang dapat membawa pemiliknya kepada taqwa dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. [4]

 Faktor-faktor al’adalah adalah sebagai berikut :
a.         Beragama Islam
Firman Allah Ta’ala :

`£JÏB tböq|Êös? z`ÏB Ïä!#ypk9$# ÇËÑËÈ  
“..Dari saksi-saksi yang engkau ridhoi..”(Q.S Al-Baqarah : 282).
                 Pada waktu meriwayatkan hadits, maka seorang perawi harus muslim, dan menurut ijma’ periwayatan orang kafir tidak sah. Jika seandainya perawi itu seorang yang fasik saja kita disuruh bertawaqquf, maka lebih-lebih perawi yang kafir.[5] Kaitannya dengan masalah ini bias kita banndingkan dengan firman Allah Ta’ala sebagai berikut :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBÏ»tR ÇÏÈ
     “Hai orang-orang beriman, apabila dating kepadamu orang-orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.”(Q.S Al-Hujurat (49) : 6).

b.    Baligh
      Hadits yang diriwayatkan oleh orang yang belum mukallaf tidak dapat diterima.[6]
Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah saw, dimana beliau bersabda :
          “Hilang kewajiban menjalankan syari’at islam dari tiga golongan, yaitu orang gila hingga ia sembu, orang yang tidur sampai ia bangun, dan anak-anak sampai ia mimipi.” (H.R Abu Daud dan Nasa’i).


c.    Taqwa
Taqwa adalah menjauhkan dosa-dosa besar dan tidak membiasakan perbuatan-perbuatan dosa-dosa kecil.
Melakukan dosa besar merupakan ke-fasiq-an. Demikian pula membiasakan perbuatan dosa kecil, karena dengan dibiasakan maka dosa kecil itu menjadi dosa besar-semoga Allah Ta’ala melindungi kita- sebagaimana dinyatakan para ulama : Laa shoghiirota ma’al ishroorin :tiada dosa kecil dengan dibiasakan.[7]
Catatan : Periwayatan oleh orang-orang yang masih kanak-kanak, fasiq, kafir, dan sakit gila,sudah jelas tidak diterima. Lalu bagaimana kalau menerimanya dalam keadaan kanak-kanak,fasiq, kafir dan gila sedang waktu menyampaikannya sudah dalam keadaan dewasa, muslim, adil sehat wal afiat ?
Dalam hal ini para ulama berpendapat :
Ø  Jumhur berpendapat bahwa : seseorang yang menerima hadits sewaktu masih kanak-kanak atau masih dalam keadaan kafir, atau dalam keadaan fasiq dapat diterima periwayatannya bila disampaikannya setelah masing-masing dewasa, memeluk agama islam dan bertaubat.[8]
Ø  Periwayatan orang gila yang disampaikan setelah sehat tidak dapat diterima, sebab waktu gila ia hilang kesadaran tak ada kedhabitan[9]

2.         Kuat Hafalan (Dhabit)
     Yang dimaksud dengan dhabith oleh muhaditsin adalah sikap penuh kesadaran dan tidak lalai, kuat hafalan bila hadits yang diriwayatkan berdasarkan hafalan, benar tulisannya bila hadits yang diriwayatkan berdasarkan tulisan.[10]
     Definisi lain dari kata dhabith adalah teringat kembali perawi saat penerimaan dan pemahaman suatu hadits yang ia dengar dan ia hafal sejak waktu menerima hingga menyampaikannya.[11]
     Bila sorang periwayat terkumpul dua sifat ini, yakni : ‘adil dan dhabith maka ia adalah hujjah dan haditsnya haru diamalkan. Pernyataan ini disebut juga dengan tsiqoh.

B.     Tahammul Wal Al-ada’ Dan Sighat-Sigatnya

     At-tahammul adalah kegiatan menerima hadits. Sedangkan al-ada’ adalah kegiatan menyampaikan hadits.[12] Para ulama ahli hadits menggolongkan metode penerimaan hadits menjadi delapan macam. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut :
1.         Al-Sima’
          Yakni suatu cara penerimaan hadits dalam bentuk mendengarkan sendiri dari perkataan gurunya. Dalah hal ini dapat dilakukan dengan cara, guru membaca dan murid mendengarkan, baik gurunya itu membaca dari hafalannya atau dari tulisannya, baik si murid mendengar dan menulis apa yang didengarnya, atau hanya mendengar tanpa menulis. Mendengar atau al-sima’ ini menurut jumhur ulama adalah cara menerima hadits yang paling tinggi tingkatannya.
          Termasuk dalam kategori sima’ juga seorang yang mendengarkan hadits dari balik sattar (semacam kain pembatas/penghalang). Jumhur ulama membolehkannya dengan berdasar pada para sahabat yang juga pernah melakukan hal demikian ketika meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah saw melalui ummahat al-mu’minin (Para istri Nabi saw).
          Lafaz-lafaz al-ada’ yang digunakan para perawi yang mendengar langsung perkataan gurunya adalah : Haddathana (seorang telah menceritakan kepada kami), Akhbarona (seseorang telah mengabarkan kepada kami), Ambaana (seorang telah memberitakan kepada kami), sami’tu (saya telah mendengar).[13]
2.         Al-Qira’ah ‘Ala Al-Syaikh atau ‘Aradh Al-Qira’ah
          Yakni suatu cara penerimaan hadits dengan cara seorang membacakan hadits dihadapan gurunya, baik dia sendiri maupun orang lain, sedangkan sang guru mendengarkan atau menyimaknya, baik sang guru hafal atau tidak tetapi dia memegang kitabnya. Periwayatan dengan cara ini oleh para ulama dikatakan sah dan dapat diamalkan.
3.         Al-Ijazah
Yakni seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadits atau kitab kepada seseorang, atau orang-orang tertentu, sekalipun murid tidak membacakan kepada gurunya atau tidak mendengarkan bacaan gurunya. Seperti lafaz : “(Saya mengijazakan kepadamu untuk meriwayatkan dariku)”. Atau dalam lafaz yang lain : “Saya mengijazakan kepadamu untuk meriwayatkan hadits shohih al-Bukhari dariku”
Ijazah ini memiliki lima tipe atau macam.[14]  Kelima macam ijazah tersebut adalah sebagai berukut :
a.    Ijazah guru untuk meriwayatkan suatu riwayat tertentu kepada orang tertentu
b.    Ijazah guru kepada orang tertentu untuk meriwayatkan suatu riwayat yang tidak tertentu. Seperti : “Saya ijazahkan kepadamu sesuatu yang saya riwayatkan untuk kamu riwayatkan dariku.”
c.    Ijazah guru kepada orang tidak tertentu untuk meriwayatkan riwayat yang tidak tertentu. Cara seperti ini dianggap rusak.
d.   Ijazah guru untuk meriwayatkan  sesuatu yang tidak diketahui (majhul) kepada orang yang tidak diketahui
e.    Mengijazahkan sesuatu yang tidak ada. Misalnya mengijazahkan kepada anak (si murid) yang belum lahir.
4.         Al-Munwalah
          Yakni seorang guru memberikan hadits atau beberapa hadits atau sebuah kitab kepada muridnya untuk diriwayatkan.
a.    Macam-macam al-Munawalah[15] :
1.    Dibarengi dengan ijazah.   Ia merupakan bagian ijazah yang paling tinggi secara mutlak. Diantara bentuknya seorang syaikh (guru) menyerahkan kitabnya kepada muridnya, seraya berkata “ini adalah riwayatku dari fulan maka riwayatkanlah ia dariku.” Kemudian mengabdikan kitab tersebut untuk dimilikinya atau untuk sebagai pinjaman untuk disalinnya.
2.    Terlepaas dari ijazah. Bentuknya adalah seorang syaikh (guru) menyerahkan kitabnya kepada muridnya dengan hanya menyatakan secara ringkas ini adalah riwayat yang aku dengar.
b.    Hukum riwayatnya :
1.    Adapun yang dibarengi dengan ijazah : maka boleh meriwayatkannya. Dan ia tingkatannya lebih rendah dari as-sima’ dan qira’ah ‘ala syaikh.
2.    Adapun yang terlepas dari ijazah :  maka tidak boleh meriwayatkannya menurut pendapat yang shahih.



5.         Al-Mukatabah
Yakni seorang guru menuliskan sendiri atau menyuruh orang lain untuk menuliskan sebagian haditsnya guna diberikan kepada murid yang ada dihadapannya atau yang tidak hadir dengan jalan dikirimi surat melalui orang yang dipercaya untuk menyampaikannya.
Mukatabah ada dua macam :
a.    Al-mukatabah yang dibarengi dengan ijazah, yaitu sewaktu sang guru menuliskan beberapa hadits untuk diberikan kepada muridnya disertai dengan kata-kata : “Ini adalah hasil periwayatanku, maka riwayatkanlah” atau saya ijazah (izin)-kan kepadamu untuk kamu riwayatkan kepada orang alin. Kedudukan al-mukatabah dalam bentuk ini sama halnya dengan al-munawalah yang dibarengi dengan ijazah, yaitu diterima.
b.    Al-mukatabah yang tidak dibarengi dengan ijazah, yaitu guru menuliskan hadits untuk diberikan kepada muridnya dengan tanpa disertai perintah untuk meriwayatkan atau mengijazahkan. Al-mukatabah dalam bentuk ini diperselisihkan oleh para ulama. Ayub, Mansur, Al-Lais, dan tidak sedikit dari ulama syafi’iayh dan ulama ushul menganggap sah periwayatan dengan cara ini. Sedangkan Al-Mawadi menganggap tidak sah.
6.         Al-I’lam
Yakni pemberitahuan seorang guru kepada muridnya, bahwa kitab atau haits yang diriwayakan dia terima dari seseorang (guru), dengan tanpa memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkannya atau menyuruhnya. Sebagian ulama ahli ushul dan pendapat ini dipilih oleh ibnu as-Shalah menetapkan tidak sah meriwayatkan hadits dengan cara ini. Karena dimungkinkan bahwa sang guru sudah mengetahui ada sedikit atau banyak cacatnya.  Sedangkan kebanyakan ulama ahli hadits, ahli fiqih dan ahli ushul memperbolehkannya : (contohnya : Seseorang telah memberitahukan kepdaku : “ telah berkata kepada kami........

7.          Al-‘Wasiyah
Yakni seorang guru, ketika akan meniggal atau bepergian meninggalkan pesan kepada orang lain untuk meriwayatkan hadits atau kitabnya, setelah sang guru meninggal atau bepergian. Periwayatan hadits dengan cara ini oleh jumhur dianggap lemah. Sementara ibnu Sirrin membolehkan mengamalkan hadits yang diriwayatkan atas jalan wasiat ini. Orang yang diberi wasiat ini tidak boleh meriwayatkan hadits dari si pemberi wasiat dengan redaksi haddatsani fulanun bi kadza : seseorang telah memberitahukan padaku begini, karena si pemberi wasiat tidak bertemu dengannya.

8.         Al-Wijadah
Yakni seorang memperoleh hadits orang lain dengan mempelajari kitab-kitab hadits deangan tidak melalui cara al-sama’, al-ijazah atau al-munawalah. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara ini. Kebanyakan ahli hadits dan ahli fiqih dari mazhab Malikiyah tidak memperbolehkan meriwayatkan hadits dengan cara ini. Imam Syafi’i dan segolongan pengikutnya memperbolehkan beramal dengan hadits yang periwayatannya melalui cara ini. Ibnu al-Shalah menyatakan, bahwa sebagian ulama muhaqqiqin mewajibkan mengamalkannya bila diyakini kebenarnya.
Sebagai tambahan dari sighat-sighat al-ada[16]berikut ini akan dikemukakan sighat-sighat al-ada’ dengan cara al-ijazah, al-munawalah, al-Mukatabah, al-Wijadah,  dan al-I’lam,[17] :
1.      Al-Ijazah : Aku mengijazahkan kepadamu untuk meiwayatkan si fulan dari saya.
2.      Al-Munaawalah : Ini adalah hasil pendengaranku atau periwayatanku dari seseorang, riwayatkanlah.
3.      Al-Mukatabah : Saya izinkan apa-apa yang telah saya tulis kepadamu.
4.      Al-Wijadah : Saya dapatkan khot (tulisan) seseorang, bercerita kepadaku si fulan.
5.      Al-I’lam : Seseorang telah memberitahukan padaku; ujarnya, telah berkata kepadaku.[18]



[1] Dr. Nuruddin “Itr, “Ulum Al-Hadits 1”, Penerbit : Remaja Rosdakarya, Bandung. Hal 64
[2] Arif Jamaluddin Malik, S.Ag, “Diktat Ulumul Hadits,” hal 45; lihat pula Dr. Nuruddin “Itr, Ulum Al-Hadits 1, hal 48.
[3] Dr. Nuruddin “Itr, “Ulum Al-Hadits 1”, Penerbit : Remaja Rosdakarya, Bandung. Hal 48.
[4] Muhammad Nashiruddin al-Albani, “Shahih At-Targhib Wa Tarhrib,” Jilid 1 hal 8. Pustaka : Sahifah, Jakarta.
[5] Dr. H Munzier Suparta M.A, “Ilmu Hadits,” PT RajaGrafindo Persada, Pustaka : Rajawali Pers, hal 205.
[6] Dr. Muhammad Zuhri, “Hadits Nabi Tela’ah Historis dan Metodologis,” PT Tiara Wacana, Yogyakarta.
[7] Lihat dalam Ulum Al-Hadits, oleh Dr. Nuruddid “Itr, hal 65.
[8] Lihat dalam Ilmu Hadits, oleh Prof.Dr.H.Endang Soetari Ad, M.Si, hal 184-185
[9] Ibid
[10] Ibid, hal 66.
[11] Lihat hal 206, “Ilmu Hadits” oleh Dr. Munzier Suparta M.A
[12] Arif Jamaluddin Malik, S.Ag, “Diktat Ulumul Hadits,” hal 46.

[13]Dr. H Munzier Suparta M.A, “Ilmu Hadits,” PT RajaGrafindo Persada, Pustaka : Rajawali Pers, hal 199.
[14] Arif Jamaluddin Malik, S.Ag, “Diktat Ulumul Hadits,” hal 47.
[15] [15] Mahmud Thahhan, Ulumul Hadits’ study kompleksitas hadits nabi, Penerbit Titian Ilahi Press, cetakan I : Nopember 1997. Hal 190

[16] Shighat ‘al-ada atau bentuk penyampaian adalah lafaz-lafaz yang digunakan oleh ahli hadits dalam meiwayatkan hadits dan menyampaikannya kepada muridnya, missal : ‘sami’tu….(aku telah mendengar), atau haddtsani….(telah bercerita kepada) atau yang semisal dengannya. Lihat Pengantar Study Ilmu Hadits, oleh Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pustaka Al-Kautsar, hal 181.
[17]  Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, M.Si, Ilmu Hadits, kajian Riwayah dan Dirayah, CV Mimbar Pustaka, cet ke V, 2008 Cibiru Bandung. Hal 178-182
[18] Lihat juga pada Diklat Ulumul Hadits, oleh Arif Jamaluddin Malik, S.Ag. Hal 49.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar